Label

Senin, 07 Januari 2013

Bukan Resolusi






Sedih itu ketika apa yang kucintai--untuk bahagia namun tertunda atau bahkan terhalangi. Lebih-lebih jika gagal!

Dan aku tidak terlalu sedih karena di awal bulan Januari ini yang juga awal tahun baru 2013 masehi--namun tidak dapat menabung seperti di awal-awal bulan biasanya sejak lima tahun yang lalu . Bukan karena tidak bisa, sebetulnya. Juga bukan karena tertunda. Lebih tepatnya menabung di tempat lain serta cara lain sebagai upaya menabung sebuah kepercayaan terhadap janji atas peduli. Meski tak dipungkiri hati ini cukup lelap ketika mata memadangi nominal yang tertera di buku tabungan yang sudah ganti—sementara tangan terus membuka setiap lembarnya hingga akhirnya berhenti pada keterangan sisa saldo akhir: seratus ribu rupiah.
Masih kuingat kebahagian yang kurasa pada saat pertama kali memiliki buku tabungan ini. Ada kebanggan dan juga keyakinan yang mulai tumbuh dengan sangat subur di hatiku, meski membuka rekeningnya hanya dengan uang tiga ratus ribu rupiah. Berjalan dengan tingkah aneh mirip anak laki-laki miskin dan jelek yang baru saja melamar gadis pujaannya namun diterima dengan tulus apa adanya. Tidak peduli pada sekeliling seakan hanya sendiri berjalan di atas pelangi kala menuju nirwana yang dimimpikan. Dan tersadar setelah jatuh ke bidang sawah yang baru selesai dicangkul pasca musim panen padi—karena terkaget saat Pak Tua menyapa.
Tanpa harus kupamerkan senyumku—pun tahu bahwa senyumanku tak jauh berbeda dengan senyumannya sebagai seorang petani yang sukses panen padi. Sebab hujan mampu membuat tanah—sawahnya menjadi tempat tinggal yang pantas bagi milyaran gabah yang telah disemaikankannya dengan segala usaha; dari tenaga sampai modal yang diadakannya. Namun, hujan sore ini seperti membuyarkan pandanganku pada lukisan cinta dan impian yang selama ini kubangun dan kupercaya dengan segala usaha. Baik dari tenaga juga modal yang selalu kuadakan; menyisakan uang dari gaji bulanan meski hanya lima puluh ribu rupiah.
Tetapi pikiranku masih tajam dengan ingatan ini. Uang yang kutabung selama lima tahun ada pada beberapa orang hingga semuanya berjumlah tiga belas juta rupiah. Hanya saja tidak tahu kapan pasti uang itu akan tertera dalam buku tabunganku atau mungkin ada di kedua telapak tanganku agar merasakan bagaimana rasanya membawa uang sebanyak itu. Padahal, dulu saat pertama kali membuka rekening, selalu kukatan dalam hati dan sering kuulangi sehingga menjadi benteng pertahanan: uang yang sudah masuk ke tabungan tidak boleh dipinjamkan!
Namun, dengan begitu saja benteng pertahananku runtuh saat mendengar ada yang butuh dan pantas dipinjami karena untuk hal baik, bahkan mulia. Dengan cepat kuambil sejumlah yang dibutuhkannya. Karena susahnya jika saat butuh dan mendadak seperti ini—mengambil, mungkin dengan ATM lebih memudahkannya karena tidak perlu mengantri panjang dengan alat utama sebuah potongan kertas bernomor. Apalagi jika butuh mendadak—mengambil pada waktu malam, tidak khawatir karena Bank sudah tutup sementara mesin ATM masih ada dan terbuka. Hanya butuh kewaspadaan. Proses transaksi tranfers pun lebih mudah dan cepat walau berbeda Bank.
Jika memang ini penyebab utamanya—karena kemudahan yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan, kurasa terlalu bodoh jika dijadikan alasan. Sebab itu semua adalah suatu hal yang memang pantas dan harus dimiliki selayaknya menyimpan uang dalam saku. Dan dengan mudah kupindahkan uangku ke rekening mereka yang membuat hatiku sakit saat tahu alasan—yang menjadikan beban dalam pikiran bahwa ini kulakukan demi ikatan. Juga lingkaran yang memutar tanpa putus, kecuali keyakinanku yang tumbuh subur karena kepercaayan pada hal itu—mereka abaikan.
Sebagai tukang kebun, terkadang memang ada sedikit senyum kering jika datang hal itu dari mereka yang sebenarnya lebih pantasnya aku yang butuh--diberi hal itu olehnya karena status hidup dan juga pekerjaannya. Namun, status dunia memang terkadang hanya sebuah figura yang dapat membuat sebuah gambar bisa terlihat lebih bagus. Dan jika figura itu dilepas, maka datang senyum kering kerontang karena terlalu lama mulut membuka dan gelengan kepala membuat pusing memikirkannya.
Pernah gitarku dibawa—dipinjam teman, namun ternyata dijual. Dan nama baik keluarganya pun menjadi figura yang dapat membungkam mulutku. Kini, telepon dan SMS mulai datang tanpa peduli waktu ke HP-ku yang kini tak dapat kupakai karena rusak dan aku mulai bosan jika akan banyak datang lagi. Mendekat hanya saat butuh. Juga banyak lagi yang tak bisa kuuraikan atas nama kebaikan yang harus kujaga.Ya, setidaknya itu suatu bukti bahwa aku masih diingat.Tetapi aku sadar, bungkamku ini adalah dosa. Tidak mengingatkannya karena malu jika datang suatu hal layaknya ulat yang merusak bunga yang kurawat. Sebab ulat itu akan jadi kupu-kupu andai malu itu datangnya dari mereka, sebab malu merupakan sebagian dari iman.
Sebenarnya, aku pun butuh HP untuk hubungan lain yang terkadang menjadi penting. Namun, ini lebih penting sebab malunya dia memang pantas jadi alasan yang membuat kelapang hati ini untuk mengalah. Apalagi dia adikku, bagaimana mungkin aku akan mengabaikannya? Kecuali aku kejam. Dia sudah memilihku sebagai sambungan harapannya ketimbang meminjam pada saudara lainnya yang sebenarnya jauh lebih tepat dan pantas. Gambar hidupnya ada dalam figura indah dan mewah.
Dan ini mungkin akan terasa atau terlihat kejam, sebab usiaku tak lagi memungkinkan untuk menunggu lebih lama datangnya sebuah kebahagian atas impian dan cinta. Sebab impian dan cintaku ini seharga puluhan juta. Aku harus melunasinya.
Mungkin, inilah saatnya untuk aku memikirkan diriku. Tetapi, aku tidak dapat lagi mebuat benteng pertahanan, kecuali aku benar-benar menjadi orang yang kejam. Sebab kuyakin ini semua hanya titipan, setidaknya menjadi bahagia atau tidak adalah bagaimana saat titipan itu datang dan cara apa untuk mengembaikannya. Lukisan ibuku masih aman dalam figura dunia yang berbeda, kesabarannya menunggu dan keikhlasannya menjadi guru terbaik dalam setiap hal. Seperti yang selalu ibu ucapkan; semoga jadi berkah.
Bulan ini menuju usiaku yang ke 24 tahun—kurang dua bulan lagi. Dan aku ingin sekali pada tahun 2014 nanti, sesuatu yang terserak pada mereka itu dapat kembali. Pada usiaku yang ganjil itu ingin sudah kumiliki rumah cinta, dan tahun selanjutnya impianku yaitu taman baca. Maka mulai awal bulan depan aku harus kembali menabung walau apapun alsannya. Sekecil apapun, pasti tetap ada manfaatnya. Juga menabung hal lain, yaitu tulisan yang juga menjadi sebagian dari impian. Memanfaatkan waktu luang walau lelah kerja sepanjang hari, siang dan malam mengkatkan leher pada majikan sebabagai satus kerja seorang tukang kebun dan juga penjaga rumah. Serta kacung!
Ah, bahkan tulisan ini pun bisa saja menjadi tabungan untuk catatan seorang tukan kebun yang harus kuingat, sebab ‘aku tidak gila’.
Jika memang hal ini adalah suatu ujian atas kepantasan hidup sebagi bukti karena-Nya, maka hanya bisa kukatakan bahwa ujian ini sama halnya dengan hujan. Jika jatuh pada tempat yang baik, maka akan datang hal baik selayaknya berkah bagi semua. Datang untuk yang hidup di tanah, sungai, hutan, laut, juga gunung. Atau datang dari mereka yang hidup di tanah, sungai, laut, hutan, juga gunung. Bahkan jika hujan turun berlebihan dan menimbulkan banjir, setidaknya akan mendatangkan kepedulian. Bagi yang tahu.

Jumat, 28 Desember 2012

Kesabaran adalah ilmu yang tidak ada habisnya





“Selama anaknya masih hidup, meski wajah telah berkerut, meski rambut telah beruban, dan masih ada pula sisa tenaganya, seorang ibu masih rela dan sanggup jadi hamba. Lalu kapan si anak hendak balas jasa?!”

Adalah seorang ibu dari dua anak laki-laki yang sedang merantau di Jakarta. Juga berstatus janda yang ditinggal mati oleh suaminya karena sakit. Meskipun usianya baru kepala empat, tetapi tidak juga Si Ibu ini punya niat untuk menikah lagi. Malah ia memilih mengabdikan diri menjadi istri yang setia. Tak pernah bosan menziarahi makam suaminya untuk berdoa dan membersihkannya. Mengajarkan ilmu cinta kepada anak-anaknya. Ada keinginan untuk melihat hidup anaknya dewasa kelak: bahagia dan bersahaja. Ada juga harapan untuk dapat menumpang hidup kepada anak pertamanya di usia senjanya nanti.

Tetapi, Si Ibu ini tahu betul cita-cita anaknya—yang tak jauh berbeda dengannya. Dimana rumah cinta yang menjadi peninggalan kakek dan neneknya sudah mulai rapuh dan tak bisa diandalkan lagi dalam segala cuaca. Lebih tua dari usia anak pertamanya. Ada juga untuk menyambung harapan ia meminta kepada anak pertamanya agar membawa istrinya ke rumah cinta yang jauh dari kata sederhana itu jika menikah nanti. Karenanya, apabila mendapatkan uang kiriman dari anak-anaknya, ia pun selalu menyisakan untuk sekedar membeli bahan-bahan bangunan, semampunya. Seperti yang sudah dilakukannya. Menganti pintu rumahnya, Mengganti beberapa lembar seng yang bocor, dan mengganti tiangnya yang keropos. Bahkan pagar gedeknya pun ditambal dengan tripleks tipis, walau hanya pada ruang kamar tidur saja.

Semua itu dilakukannya sebagai pengingat bagi anaknya bahwa rumah cinta adalah cita-cita pertamanya yang harus segera diwujudkan, sedangkan menulis dan taman baca adalah impiannya yang memang juga harus diperjuangkan walau berat dan susah. Karena itu ia tidak marah ataupun sedih ketika mengetahui bahwa anaknya membeli laptop dengan cara kredit untuk menggapai impianya itu. Malah ia rela korbankan perasaan saat ada saudara-saudaranya yang memiliki pemikiran lain—kalau itu hanya untuk gaya-gayaan saja.

Pernah, salah satu teman anaknya mengatakan; “anaknya mainan laptop ibunya menggendong karung!” pada Si Ibu ketika melihatnya pulang dari kebun teh sebagai kuli pemetik daun teh. Tetapi dengan tenang Si Ibu menjawab; 'biar berkah'.

Bicara soal berkah, entah kapan Si Ibu ini merasakannnya. Tetapi banyak yang ia contohkan kepada anaknya. Pernah anaknya marah karena ada tetangga yang menaruh barang di rumahnya. Kemudian kursi yang menjadi pengisi salah satu ruangan dalam rumah dipinjamnya pula. Tetapi Si Ibu itu tetap sabar dan menenangkan anaknya yang marah karena tersinggung; rumah ibunya bukan gudang. Akan tetapi, kini Si Ibu ini memilih tinggal (tidur, masak, mandi dll) di rumah bibinya yang juga sudah dianggap sebagai ibu kandungnya. Semua itu bukan karena menghindar dari saudara perempuannya (kakak) yang sedikit tidak waras dan suka mengamuk. Tetapi karena pengabdian kepada seorang bibi yang sudah dianggapnya sebagai ibu, itu.

Dengan sabar Si Ibu ini mengurus adik sepupunya (perempuan) yang sakit lumpuh. Memandikannya, memakaikan baju, menyuapi saat makan, mendudukkan di kursi, menidurkan di ranjang, juga mengurusnya saat dan setelah buang air—baik kcil maupun besar. Memang terkadang masih dibantu oleh orangtuanya—Si Bibi, tetapi ia tetap harus bersabar karena adik sepupunya yang lumpuh—kini juga mulai tuli. Bicaranya pun tak jelas dan sangat pelan. Mengurus orang seperti ini sangat butuh kesabaran dan kelemah lembutan, sebab perasaannya sangat mudah tergores jika ada gerakan sedikit keras saat mengurusnya. Apalagi juga tidak bisa ditinggal lama-lama, sehingga untuk sholat pun tak bisa pergi ke masjid untuk berjamaah. Tetapi Si Ibu ini tetap tekun.

Memang Tuhan itu Maha Tahu, tetapi Si Ibu ini juga harus tahu kalau anak pertamanya berhasil mewujudkan cita-citanya untuk rumah cinta, juga membawa istrinya sesuai yang diinginkannya, entah bagaimana nanti akhirnya. Apakah harus tetap tinggal di rumah bibinya untuk merawat adik sepupunya atau memilih tinggal bersama anak dan menantunya. Dan hanya Tuhan yang tahu apa yang selalu terucap dari bibirnya yang tak pernah bergincu.

Kini umur bibinya sudah tua, hampir 70 tahun, sedangkan adik sepupunya mungkin seumuran dengannya. Pun memiliki satu anak laki-laki yang baru mulai bekerja—merantau di Jakarta setelah lulus SMA. Dan entah bagaimana nanti jika salah satu putus usianya. Kecuali adik sepupunya lebih dulu, tetapi mana bisa umur dipinta? Jika yang lain, atau dirinya? Hanya Tuhan Yang Tahu, usia sudah jadi rahasia-Nya. Dan senjata utama untuk menjaga segala hal yang tak pasti jelas hanya kesabaran.

Kembali lagi ke kakak perempuannya yang sebenarnya tidak gila, hanya saja suka mengamuk itu. Jika pulang anak-anaknya nanti, maka Si Ibu ini harus menebalkan kesabarannya. Sebab, jika sampai cita-cita dan keinginannya dari anak pertamanya, maka ia harus berbagi ruangan dalam satu atap. Apa mungkin, menantunya akan menerima kedaan keluarganya? Bagaimana nasib anaknya? Lagi-lagi hanya Tuhan Yang Berkuasa. Dan menjalankan sebuah usaha serta berdoa sudah pasti dilakukannya, agar anak-anaknya mau menerima kenyataan bahwa hidup di dunia itu memang asing. Dunia adalah penjara bagi yang menghamba pada-Nya.

Hidup dalam ketidak sederhanaan memang terkadang menumbuhkan rasa malu jika tidak dapat menjaga diri dari hak kepemilikan. Tetapi Si Ibu ini amat sadar, bahwa malu adalah sebagian dari iman. Dan sutau kali pernah dibuat malu saat namanya disebutkan dalam suatu perbandingan besar kecilnya suatu nominal saat menyumbang untuk pembangunan masjid. Si Ibu ini dijadikan tolak ukur bagi mereka yang masih enggan beramal. Lebih besar sumbangannya daripada mereka yang kehidupannya terbilang lebih dari kata sederhana. Akan tetapi Si Ibu ini tetap ikhlas, tidak mennginkan sanjungan dari mereka yang mendengar semua itu. Dan tidak memikirkan berapa besar pahala yang akan didapatkannya.

Pahala memang tak terlihat, tapi—mungkin—bisa dirasa dengan adanya ketenangan. Sehingga Si Ibu ini pun tetap tenang saat menjalankan kehidupannya, saat meminjamkan juga memberikan sebagian yang dimilikinya, bahkan saat menerima ketentuannya yang terkadang tak sesuai harapan dan apa yang ia percayakan atas hal tersebut. Tetapi Si Ibu ini tetap percaya, bahwa Tuhan Maha Besar dan Maha Mengetahui apa-apa yang ada di balik semua rasa kekecewaannya: Kesabaran adalah ilmu yang tidak ada habisnya...

Jumat, 23 November 2012

Buku-buku Antologiku























Buku Antologiku :

1. Curahan Hati Untuk Tuhan. ( untuk amal dan tidak memiliki bukunya) LeutikaPrio (indie)
2. Funny Pocong and Casper Around us. (tidak memiliki bukunya) AGpublishing (indie)
3. Puisi Adalah Hidupku. (tidak memiliki bukunya) LeutikaPrio (indie)
4. Surat Dear Mama #4. (untuk amal dan tidak memiliki bukunya) NulisBuku.com (indie)
5. surat 99 Pesan Kerinduan untuk President. (tidak memilki bukunya) LeutikaPrio (indie)
6. Kisah Inspiratif Seorang Nenek Di Bawah Pohon Kasturi. (untuk amal dan memiliki bukunya sebagai hadiah Lomba Menulis Puisi untuk Indonesia, juara harapan 3) OaseQalbu (indie)
7. 101 Puisi Cinta Untuk TKI. (tidak memiliki bukunya) Umahaju Publisher (indie)
8. FTS Memori In Love (tidak memiliki bukunya) SkylArt Publishing (indie)
9. Cerpen dan Puisi Alam Imajer (tidak memiliki bukunya) Puput Happy Publisher (indie)
10. Puisi Presiden untuk Presidenku. (tidak memiliki bukunya) SANY publisher( indie)
11. FTS Event Tahun Baru. (tidak memiliki bukunya) Anissa Ae publisher (indie)
12. FTS Perindu Surga (memiliki bukunya sebagai hadiah juara 1 puisi di bulan Mei di Grup AAR) Puput Happy Publisher (indie)
13. Puisi Indonesia Dalam Naungan Doa Kami (tidak memiliki bukunya) Penerbit Oase Qalbu (indie)
14. Puisi Berbagi Kasih (tidak memiliki bukunya) Penerbit Sahabat Kita (indie)
15. Puisi Selayang Pesan Penghambaan (tidak memiliki bukunya) Penerbit Oase Qalbu (indie)
16. FTS Ramadhan di Rantau (tidak memiliki bukunya) Penerbit Harfey (indie)
17. FTS, Surat & Puisi Penantang Mimpi (Tuhan, aku dan sastra) (tidak memiliki bukunya) Hasfa Publishing (indie)
18. Cerpen Palingan Wajah Garuda (memiliki bukunya) penerbit Antarnusa
19. Kisah Inspiratif Menatap Luas Kehidupan (untuk amal dan tidak memiliki bukunya) Rasibook (indie)
20. FF komedi Aksi Hantu (tidak memiliki bukunya) Deka Publisher (indie)
21. Cerpen Say No To Tatto (memiliki bukunya) Deka Publisher (indie)
22. Kisah Lebaran Menerjang Rindu Antara Seol-Kerinci (tidak memiliki bukunya) Penerbit Oase Qalbu (indie)
23. Puisi Dalam Nafas Kata (tidak memiliki bukunya) Goresan Pena Publishing (indie)
24. Cerita Serba Serbi Mudik #2 (tidak memiliki bukunya dan royalti untuk amal) Deka Publisher
25. Berbagi Abi (tidak memiliki bukunya dan royalti untuk amal) Deka Publisher
26. Tentang Pahlawan (tidak memiliki bukunya) Pena Nusantara (lini indie)


Keterangan : maksud daripada indie adalah tidak masuk ke toko buku (skala nasional), pemasaran hanya lewat internet (online). Biayanya pun ditanggung pihak penyelenggara lomba. Jarang ada royaltinya, kecuali ikut investasi. Penulis hanya mendapatkan potongan harga jika membeli bukunya, sebesar 15 / 20 %.

ini link info (catatan) pada facebookku:
https://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=394256803935708

Kamis, 08 November 2012

Ibu dan Pahlawan

(gambar dari geogle)
Seorang ibu adalah pejuang. Pahlawan bagi anak-anaknya. Tidak ada manusia yang tidak tahu betapa beratnya perjuangan seorang wanita ketika hamil selama sembilan bulan sampai melahirkan bahkan sampai membesarkannya. Merawat dengan sepenuh hati, jiwa dan pikiran. Hingga suatu ketika si bayi yang pernah dikandungnya sudah sampai berumur tua dan memiliki anak sekali pun—ia tetap akan mengatakan “dia anakku!”.

Dan seorang pejuang, atau pahlawan—juga memliki sifat yang sama seperti ibu! Ia selalu melahirkan pemikiran-pemikiran hebat, cemerlang, idealis dan kemudian berusaha membesarkannya dengan mengimplementasikannya. Berjuang sepenuh jiwa raga, mengorbankan semua yang dimilikinya, harta maupun nyawa. Rela jauh dari keluarga, tak peduli sakit hingga meregang nyawa.

Ibu dan pahlawan adalah kalimat dan suku kata yang tak akan pernah terpisahkan! Seperti halnya langit dan bumi. Jika salah satunya tak dimiliki, maka mustahil akan ada yang namanya kebahagian, kemerdekaan, dan kedamaian. Hanya saja, semua itu tidak datang dengan semudahnya nyawa yang hilang dari seorang pejuang dan pahlawan atau pengorbanan dari seorang ibu.


Kedamaian itu tidak berbentuk, maka jangan pernah membentuk hati, pikiran, jiwa dan perasaan kita dengan kebencian. Dendam dan kehancuran! Atau kita akan kehilangan kebahagian dari seorang ibu yang telah melahirkan kita serta dari para pejuang dan pahlawan yang tak pernah membentuk hatinya dengan kesedihan walau kebahagiaan belum datang sepenuhnya. Sebab, kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat kita menginjakkan kaki di surga. Dan kebahagian di dunia adalah cara dan jalannya, dengan membagikannnya kepada yang tak atau belum merasa bahagia.

Rabu, 07 November 2012

Pupuk Organik Balatani




PUPUK ORGANIK "BALATANI"

1. Solusi jitu bagi merosotnya kualitas tanah pertanian, rusaknya ekosistem dan menurunnya kesehatan karena pemakaian pupuk kimia yang berlebihan pada hasil pertanian.
Pupuk Organik Balatani diproduksi berdasarkan penelitian dan uji Laboratorium di Unsoed Purwokerto, sehingga mutu dan kualitasnya selalu terkontrol.
2. Dengan komposisi dari Pupuk kandang murni dari ternak kambing dan sapi tanpa campur an lain dan diperkaya dengan 12% dolomit, 3% phosphat alam. Juga tambahan mineral lain yang dibutuhkan tumbuhan, kemudian melalui proses Fermentasi dari Bakteri Bakteri Patogen (Lactobaccilus dll) . maka menghasilkan komposisi Pupuk yang sangat bagus untuk Hasil Pertanian dan Perkebunan.

3. Dan demi Prinsip keberpihakkan terhadap Petani maka Pupuk ini Dijual dengan harga yang sangat Murah untuk Kualitas pupuk yang seperti Ini.


Anda Tertarik? Buktikan saja...!
Pemesanan dan Konsultasi harga Hub. 0817295081/ 085727147136 (Yudi)

Rabu, 31 Oktober 2012

kenapa ibu suka menangis?


(foto dari Geogle)

Seorang anak lelaki kecil bertanya kepada ibunya.
“Mengapa Bunda menangis?”
“Karena Bunda butuh menangis,” jawab sang ibu.
“Aku tak mengerti,” ujar si kecil.
Sang ibu memeluk si kecil dan berkata, “Kau tidak akan pernah mengerti.”

Berlarilah si kecil kepada ayahnya.
“Ayah, mengapa Bunda menangis tanpa alasan yang jelas… dan bisa kumengerti?”
“Semua perempuan seperti itu, menangis tanpa alasan,” jawab sang ayah tanpa peduli.

Pergilah si kecil mencari guru mengajinya, masih dalam kebingungan mengapa Bunda menangis tanpa alasan yang jelas.
“Wahai Ustadzah, mengapa ibundaku dan kaumnya begitu mudah menangis?”
Menjawablah sang ustadzah ;

“Ketika Allah menciptakan wanita, maka Dia menciptakan mahluk yang sangat special.
Allah ciptakan mahluk ini lengkap dengan dua bahu yang sangat kuat untuk memikul semua beban dunia, namun dengan lengan yang lembut untuk memeluk anak-anaknya.
Allah karuniai mahluk ini kekuatan batiniah yang luar biasa demi menanggungkan pedihnya melahirkan anak yang kemudian akan meninggalkan dan mengabaikannya.
Allah berikan mahluk ini ketegaran yang memungkinkannya terus bertahan dan berjuang ketika semua orang lain sudah berputus asa, demi merawat seluruh keluarganya di saat sakit dan lelah tanpa mengeluh.
Allah hiasi mahluk ini dengan kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam semua keadaan, bahkan saat si anak menyakiti hatinya.
Allah lengkapi mahluk perempuan ini kekuatan untuk menerima suaminya dengan segala kekurangan dan kelemahannya.
Allah ciptakan mahluk ini dari tulang rusuk laki-laki demi melindungi hati si laki-laki.
Allah karuniai dia kebijaksanaan sehingga mengetahui bahwa seorang suami yang baik tidak pernah menyakiti istrinya, tetapi sering menguji kekuatan dan keteguhan hati si istri dalam mendampinginya.
Akhirnya, Allah karuniai wanita dengan air mata untuk dipakainya setiap saat dia membutuhkannya. Dia tidak memerlukan alasan, penjelasan untuk menggunakannya karena air mata itu adalah miliknya.
Anakku, kecantikan seorang wanita tidak terletak pada pakaian yang dikenakannya, tidak pada wajahnya atau sisiran rambutnya. Kecantikan seorang perempuan ada pada matanya, karena itulah pintu gerbang menuju hatinya – tempat cinta bersemayam.”
Si kecil berlalu dengan membawa jawaban yang disimpannya di dalam hatinya dan tidak pernah lagi dia bertanya kepada ibunya, mengapa Bunda menangis?

Oleh : Nurah Tayeb (Seorang wartawati dari Afrika Selatan yang bekerja untuk Aljazeera.com di Doha, Qatar)

Allah karuniai wanita dengan air mata untuk dipakainya setiap saat dia membutuhkannya. Dia tidak memerlukan alasan, penjelasan untuk menggunakannya karena air mata itu adalah miliknya.
Kecantikan seorang wanita tidak terletak pada pakaian yang dikenakannya, tidak pada wajahnya atau sisiran rambutnya. Kecantikan seorang perempuan ada pada matanya, karena itulah pintu gerbang menuju hatinya – tempat cinta bersemayam.
Dan wanita yang cantik dan baik adalah wanita yg murah maharnya, yg mudah dinikahi dan yg baik pula akhlaqnya.

sumber : http://blog.its.ac.id/syafii

Sabtu, 20 Oktober 2012

Untuk Anak Muda


(gambar dari Geogle)

Berhati-hatilah wahai pemuda.

Kalau bicara soal pemuda, berarti bukan hanya mahasiswa atau pelajar saja, atau istilahnya anak-anak yang berpendidikan. Tapi juga anak-anak yang mungkin sekarang ini sedang minum bir, nelan inex, duduk berduan dengan pacarnya, melek di meja judi, melototin ps, nusukkin badan pakai jarum, bahkan juga ada yang sedang mencoba gantung diri di pohon jengkol atau nunggu kereta lewat untuk menabrakkan dirinya cuma gara-gara putus cinta. Ya, itulah wajah anak muda Indonesia jaman sekarang. Yang berpendidikan belum tentu terdidik, dan yang tidak berpendidikan kadang juga tidak mau dididik.

Alasanya mereka cuma satu; hidupku adalah kebebasanku. Inilah... setiap satu kebebasan akan selalu mendatangkan rasa atau keinginan untuk menuntut dan mendapatkan kebebasan-kebebasan lainnya. Padahal, kebebasan bukanlah hidup semaunya; salah benar ditanggung sendiri. Tetapi, kebebasan adalah hidup tenang, tentram, dan damai dengan adanya satu kepatuhan pada hukum atau keyakinan yang berkesinambungan dengan kemaslahatan bagi dirinya serta sesamanya.

Seperti halnya ketika anak muda yang menatap dunia dengan kebiasaan atau kesukaan dirinya—namun ia merasa ada ketimpangan, maka ia akan merevolusikan dirinya untuk kebebasan yang ia yakini. Yang pikirannya hanya soal cinta, maka ia akan berikan apapun yang ia miliki untuk mendapatkannya, walau harus dengan merampas atau memberikan kesuciannya. Yang pikirannya hanya soal trend dan idolanya, maka ia tidak peduli walau harus terinjak atau bahkan menangis sambil guling-guling hanya untuk meminta belas kasihan agar dapat memegang tangan atau berfoto dengan idolanya. Yang pikirannya tertuju untuk masa depan bangsa, maka ia akan memberikan segenap jiwa raganya demi perjuangan tegaknya Pancasila dan Bineka Tunggal Ika. Akan tetapi, ada satu hal yang kadang ia lupakan.

Bolehlah kita membenci kepemimpinan yang tiada berpihak pada rakyat kecil atau jelata, akan tetapi bukan berarti kita boleh berbuat onar atau brutal—sehingga mengganggu dan meresahkan masyarakat kecil yang hidupnya sudah susah malah semakin dibuat susah. Sebagai contohnya, merusak fasilitas umum, merusak kendaraaan pengguna jalan, menahan kendaraan yang dibawa supir—sebagai tugasnya untuk mengantarkan barang bawaan. Belum lagi dengan empunya yang sudah menanti dan mungkin juga kulinya yang hanya dibayar jika ia bekerja saat itu juga.

Dan satu yang aku tahu serta aku pelajari, setiap anak muda biasanya selalu merasa lebih pintar daripada anak muda yang lainnya. Karena itu, seharusnya setiap anak muda mampu mengambil kesempatan atau peluang yang ada di manapun dirinya berada—untuk menjadikan kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara sebagai lahan amal yang tidak ada putusnya. Tidak selalu dengan bicara lantang di barisan terdepan, tetapi juga bisa dengan duduk di barisan belakang untuk merapikan dan mengindahkan tatanan kehidupan: membuang sampah pada tempatnya, kerja bakti merawat jalan atau fasilitas umum, menyuluh kegiatan keorganisasian yang dapat menampung anak-anak yang kurang mendapatkan pendidikan atau bahkan hanya dengan menuliskan: hati-hati, di sini sedang ada keributan dan tawuran. Hindarilah agar tidak ada perpecahan.