Label

Sabtu, 28 April 2012

KARENA MUSIK ITU ILMU

(sumber gambar dari google)

Musik lebih dekat dengan keindahan. Dan musik pun digandrungi oleh semua kalangan; orang tua, dewasa, remaja serta anak-anak. Orang kuno (jaman dahulu) biasa menggunakan musik untuk melaksanakan berbagai ritual, kemudian menggabungkannya dengan tarian-tarian, suara dan juga mantra yang disusun dengan secara sempurna. Sehingga menghasilkan irama, lagu, serta keharmonisan dari semua jenis alat atau benda yang menghasilkan bunyi-bunyian. Perkembangan jaman pun membuat orang menggunakan musik untuk sarana bersosialisasi, menyampaikan pendapat, pesan atau maksud dan juga untuk menghibur serta mengekspresikan diri. Bahagia, sedih dan lucu (humor). Bahkan musik juga digunakan untuk sarana dakwah, mengenalkan Tuhan melalui keindahan nada dan suara.

Seharusnya musik dikenalkan pada anak-anak karena sejarahnya. Dimana musik merupakan sarana yang mudah untuk menyambungkan atau menyampaikan ilmu pelajaran serta cara mengingat ilmu yang paling asyik. Namun banyak orangtua yang mampu dan memiliki keinginan lebih untuk menyekolahkan anaknya sebagai modal dasar untuk menjadi seorang yang pandai bermusik, terkenal dan kemudian memanennya kelak. Setelah dewasa atau pada saat masih remaja. Bahkan mengeksploitasi anak sejak dini dengan alasan kebahagian si anak. Padahal kebahagian anak-anak adalah bisa membuat kegaduhan (ramai). Maka seharusnya orang tua pandai memanfaatkan kegaduhan yang dibuat anaknya untuk hal-hal yang positif.

Namun tak dipungkiri, banyak orangtua yang mengenalkan musik dan gabungan lainnya seperti menari atau berjoged khas orang dewasa. Dimana mereka membuat kegaduhan si anak untuk mengobati kejenuhan dirinya sendiri. Bahkan dengan bangganya mereka memamerkan apa-apa yang dianggap ketrampilan atau kelebihan anaknya itu pada khalayak. Padahal tak lain mereka sedang menanamkan kebodohan; menunjukkan kebahgiaan yang semu, sementara kebanggaan yang didapatkannya hanya menjadi bahan perbincangan tanpa menghasilkan suatu pembelajaran yang memotifasi, hanya cap buruk yang didapatkannya. Maka tak salah jika si anak tumbuh menjadi seorang yang berpikir bahwa kebahagiaannya adalah hak yang tak dapat diganggu gugat dengan hukum yang tak tertulis; hukum pimikiran manusia dalam penilaian ilmu bersosial.

Dunia anak adalah dunia yang penuh kecerian. Karena dunia anak adalah dunia pertumbuhan, penanaman dan pembibitan pemikiran untuk kemajuan. Maka seharusnya seorang anak tak layak diajarkan untuk bermain musik orang dewasa. Musik yang penuh dengan syair kebencian dan kegalauan, walaupun syairnya cinta namun hanya mencerminkan kesemuan terhadap rasa yang tumbuh untuk salah seorang semata. Karena biasanya musik yang mengajarkan cinta dalam arti sosial adalah musik yang beraliran keras, belum lagi jika menggunakan atribut yang tak pantas untuk dipandang. Bagaimana mungkin seorang laki-laki memakai anting atau tindik yang bukan hanya pada telinga, tapi juga di alis (samping mata), lidah, hidung, bibir, bahkan melukis tubuhnya dengan aneka gambar yang menyeramkan. Apakah mau jika seorang anak akan beranggapan kalau kebahagiaan mereka adalah kegaduhan yang mirip kegaduhan anak muda atau dewasa? Dimana bersuka cita dalam kebanggaan untuk menunjukkan kekuatan dengan saling dorong, angkat badan, atau bahkan saling membenturkan badan seperti pada musik underground.

Mari, kembalikan musik anak pada konotasi sesungguhnya. Bahwasanya musik itu ilmu. Menjaga dan mengapresiasikan diri dalam bentuk kesopanan bahasa dan konjungsi atau gabungan lainnya seperti syair, tarian, pencitraan diri dalam seni yang mengangkat derajat sosialnya meski tak mendapatkan apresiasi materi. Karena dewasa ini banyak orang mengatakan bahwa musik adalah sumber penghidupan; siapa yang memantapkan musik karena untuk makan (bekerja), maka dipastikan ia akan berhasil dengan atau dalam bermusik. Namun sayangnya terkadang mereka melupakan kebahagiannya dalam meraih hak dan kewajiban seorang anak; belajar (menuntut ilmu) dan bermain.

Apalagi musik yang datang dari moderenisasi dunia luar semakin parah. Jangan biarkan realitas musik anak indonesia diracuni budaya asing yang semakin gencar mengapresiasikan kebebasannya dalam membungkusi musik dengan gaya hidup orang asing yang sangat tak pantas untuk anak-anak indonesia. Busana yang semakin minim dan memamerkan bentuk tubuh yang seharusnya menjadi bagian kehormatan seorang wanita.

Selasa, 17 April 2012

Hidupmu Hidupku (dalam buku antologi Dear Mama #4, royalti untuk amal)





Ibu... bagaimana kabarmu? Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu menjagamu.

Engkau pasti tahu, bahwa aku sangat merindukanmu. Disini, di Jakarta, kulangkahkan kaki, kugerakkan badan, dan kuhidupkan pikiran bersama ridhamu. Sesuai harapan untuk satu kisah cinta, untuk keluarga yang bahagia. Kita selalu bahagia, meski dalam keadaan hidup yang sangat sederhana, banyak kurangnya. Tapi keyakinanku akan nikmat-Nya, yang engkau tanamkan di hati ini, membuatku mampu melangkah dalam lautan duri yang menusuk sendi nurani. Di sini, aku masih mencoba mengukir bingkai-bingkai kehidupan untuk dijadikan kenangan yang indah dalam sepanjang perjalan. Terkadang kurasakan resah, galau dan lelah. Aku ingin jatuhkan tubuhku dalam pelukan hangatmu, tapi jarak antara Jakarta dan desa kita, selalu menjadi penghalang utama. Tapi aku bahagia saat aku pandangi gambar wajahmu yang cantik, secantik laku dan selembut belaian serta tutur katamu. Potret wajahmu kusimpan dalam lempitan dompetku, meski dompetku kusut dan bau. Maaf jika aku salah menempatkannya. Tapi, percayalah ibu, potretmu selalu kujaga dan kurawat denagn baik-baik.

Ibu... kerinduan ini semakin dalam, lebih dalam dari laut yang ditakuti penyelam. Lebih indah dari dalamnya laut yang selalu dibanggakan penyelam. Andai aku mampu selami hatimu, mungkin aku akan mengerti dengan apa aku menjamah cintamu. Tapi aku percaya, cintamu tak terbatas. Kecuali waktu yang telah ditetapkan-Nya, seperti waktu yang telah menetapkan cinta dari Ayah. Darimu aku pelajari cinta. Sebenar-benarnya cinta. Cinta terhadap Tuhan, keluarga, saudara, bahkan cintamu pada gambar tanggungjawabku, almarhum Ayah yang kuhormati dan kucintai. Darimu pula aku pelajari keramahan, kelembutan dan kehormatan. Aku selalu merindukan tarikan tanganmu di telingaku, saat aku mulai menghisap asap yang kejam ini. Aku belum bisa menepiskan kesukaan dan kebiasaanku berteman dengannya yang selalu menipuku ini. Aku juga rindu jepitan tanganmu di hidungku, saat aku masih lelap, sementara matahari mulai menunjukan sinarnya, yang masuk kedalam rumah melalui celah-celah dinding rumah yang terbuat dari bambu.

Ibu... sampai detik ini aku masih ingat satu permintaan yang menjadi kewajiban bagiku untuk memenuhinya. Sebentuk cinta yang akan menjaga kita dari dinginnya angin malam yang teramat dingin, dari teriknya sinar mentari kala siang, serta dari hujan yang datang baik dikala malam, siang bahkan pagi sekalipun. Yaitu; Rumah cinta, rumah yang menjadi dambaan kita. Surga kecil yang indah dan damai. Namun, hingga saat ini aku belum mampu mewujudkannya. Aku minta maaf Bu.. tapi, aku janji. Aku akan terus berusaha untuk mewujudkannya. Tak peduli meski harus kukorbankan masa mudaku. Karena aku percaya; dengan pengorbanan ini, maka akan ada bahagia dimasa tua. Aku tak iri pada teman-temanku yang memiliki sepeda motor dan bisa membonceng pacarnya, tapi aku selalu iri jika aku tak bisa menabung untuk rumah cinta. Aku akan sedih, karena hanya itu satu-satunya cara untuk mewujudkannya. Usaha yang menjadi kelanjutan setelah do’a dan bekerja. Engkau tak perlu takut. Aku pun masih sisihkan untuk kebutuhan kita saat ini. Akan aku cukupi semuanya, secukup syukur serta implementasinya. Karena cukup itu adanya di hati, bukan yang ada di bank, di dompet, di halaman, di rumah, di parkiran atau yang masih di dalam mimpi sekalipun. Dan untuk mimpi, cita-cintaku telah kugantungkan setinggi langit, agar menyatu dengan do’amu yang menuju kepada-Nya. Karena hanya Allah yang dapat mengabulkannya. Aku hanya berusaha, dan semoga Allah setuju dengan rencana-rencana baik kita, salah satunya; Rumah Cinta.

Ibu... Engkau adalah nafasku, semangat yang tak pernah padam, bekal tanggung jawab dalam kenyataanku. Engkau adalah jiwaku, akan kujaga sekuat raga ini, dan kutempatkan dalam ruangan teristimewa di hatiku. Engkau adalah pelangi hidupku, yang memberi arti dalam setiap langkah, seiring do’a penguat batinku. Engkau adalah gambar cintaku di hijaunya alam, yang sejukan pikiran, bersama senyuman awan yang tak lekang. Engkau adalah pelita, penerang gelapnya jalan yang terhampar jutaan penghalang dalam langkah hidupku. Engkau adalah keindahan, pelepas resah serta gundah yang tak pernah merasa jenuh atau pun lelah. Engkau adalah kebahagiaan, sebagai naungan dalam basah luka dan derita, pemancang keyakinan nuraniku. Engkau adalah hidupku, hidupku ada dalam ridhamu, maafkan segala salahku, akan kubalas semua kebaikanmu. Begitu luas samudra maafmu, begitu tulus kasih sayangmu, begitu dalam rasa cintamu, begitu kuat ikatan rindumu. Surga di telapak kakimu, betapa bodoh jika aku melupakanmu hanya untuk seorang wanita yang akan menjadi ibu untuk anak-anakku. Aku mencintaimu bagai mencintai kebenaran...

Jumat, 06 Januari 2012

Kau Harus Tahu

(sumber gambar dari google)

Kawan, kau tahu
Banyak orang yang bijak,orang yang sukses, orang yang kaya, bahkan orang yang sengsara
Tapi, jangan katakan: aku menderita!
Atau kau akan nikmati hidupmu hanya dengan ratapan sesat!

Kawan, banyak sekali orang yang sukses dengan sifat bijaknya, yang didukung kekayaan dari orangtuanya atau saudaranya.
Tapi, banyak orang yang sukses namun tak punya sifat bijak. Meski banyak harta, melimpah ruah, hidup dalam istana.

Kawan, banyak orang yang sukses karena kekayaannya, dan akhirnya mendatangkan sifat bijaknya. Kemudian bertambah hartanya.

Dan kau pilih mana, Kawan?

Jika kau tak punya kekayaan, tak punya sifat bijak, tapi kau ingin sukses, maka kau sukses dalam keomongkosonganmu!

Kawan, biar kita tak punya kekayaan yang mendukung, tapi lahirkanlah sifat bijak itu, hingga kau akan sukses dalam hatimu!

Ketenangan dan kenyamanan hidup yang tak semua orang miliki, meskipun ia miliki kekayaan yang melimpah ruah.

Dan aku memang tak miliki kekayaan yang mendukung itu, tapi aku miliki harta yang harus aku dukung dengan sifat bijak itu, agar aku raih kesuksesan dalam memiliki harta itu. Bertanggung jawab.

Dan kau tahu, Kawan? Hartaku adalah orang tua, keluarga, saudara, sahabat, teman, kawan, bahkan lawan yang memberiku pelajaran agar aku lebih bisa mengalah dan bisa merangkulnya dalam langkah yang bijak.

Ya, semua itu adalah kekayaanku, karena Alloh Maha Kaya...

Senin, 02 Januari 2012

Tanami Tanah Pertiwi (100 besar lomba Andai Aku Menjadi DPD RI)





Aku hanya seorang anak seorang petani kecil dan lulusan SLTP. Namun aku tetap anak Indonesia, yang memiliki kecintaan terhadap bangsa dan negara. Meski aku sendiri tidak tahu apa benar negeri ini masih berbangsa, dan masihkah tanah ini layak disebut negara. Mungkin atau tidak, tapi aku tetap punya mimpi. Meski mimpi ini selalu terampas oleh kenyataan, kekuasaan dalam hak yang diwakilkan sekumpulan orang yang mengaku pahlawan. Nyatanya benar, mereka adalah pahlawan untuk kelompok atau organisasi yang bertopeng atas nama rakyat. Bendera berwarna dan berlambang kerakusan lengkap dengan atribut dan kadernya. Aku yakin bisa menjadi DPD RI, jika aku terus berusaha. Seperti yang kerjanya hanya tidur atau duduk di kursi dengan asyik menonton film dewasa sambil tertawa. Lagi pula aku juga sudah dewasa, maka aku bisa!

Aku punya mimpi! Aku ingin menjadi DPD RI. Bukan untuk mencari nama (pahlawan) atau uang serta kekuasaan. Tapi aku ingin membebaskan rakyat dari belenggu janji serta memajukan kehidupan dengan segala sumberdaya maupun potensinya. Aku akan ajukan undang-undang tentang pembelaan kesejahteraan para petani dan nelayan, serta rakyat miskin desa lainnya. Bukan undang-undang yang menjadi pintu kebebasan bagi pembesar negara untuk melebarkan tanah dan rumahnya. Bukan pula untuk memudahkan langkahnya dalam membusungkan dada dan membuncitkan perutnya, agar tidak ada lagi rakyat yang kehilangan harta dan nyawanya dengan sia-sia. Digusur tanah dan rumahnya, apalagi terjajah hak dan kewajibannya. Sebab aku memiliki wewenang untuk hal tesebut, sebagai DPD RI. Bukan mewakili rakyat dalam menikmati kekayaan negara, sehingga aku hidup dalam kemewahan, namun rakyat hidup dalam kesengsaraan. Aku akan benar-benar tajamkan mata serta pikiran, lalu mengelolanya dengan hati dan ilmu kenyataan yang dialami rakyat, agar tidak ada hukum yang membuat rakyat semakin menderita dan sengsara.

Tugas DPD RI, bukan hanya soal hukum dan perundang-undangan, namun juga implementasinya. Maka aku akan selalu gunakan hak suara rakyat dengan mengadakan pertemuan-pertemuan yang terkoordinir, untuk mengurangi adanya demo-demo yang kadang hanya menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah. Karena demokrasi bukan hanya untuk wakilnya, tetapi juga yang diwakilkan. Apalagi jika demo hanya ajang untuk menyakiti diri dengan jahit mulut ataupun bunuh diri. Karena rakyat juga memilki hak untuk mengawasi pemerintahan dan memiliki kewajiban untuk membangun kepemerintahan yang sehat, jujur, adil, dan bijaksana. Maka rakyatlah yang harusnya beperan penting dalam hal pembangunan, otonomi daerah, bukan para investor asing. Karena rakyat masih mampu untuk mengolah tanahnya sendiri, tanah ibu pertiwi. Dan dengan bantuan serta sokongan dari pemerintah, maka terbuktilah dari rakyat untuk rakyat. Bukan dari rakyat lalu dijerat, dikhianati dengan janji-janji yang hanya menambah reputasi basi bagi pembesar-pembesar negara yang komunis, leberalis, maupun hedonis. Bertangan besi.

Dengan kenyataan yang ada, apakah benar jika Indonesia itu negara agraris. Dimana kini impor beras semakin tinggi, bahkan sampai-sampai menjadi induk masalah di tubuh DPR, yang seharusnya paham dan tahu bahwa Indonesia memiliki tanah yang subur makmur, tanah surga. Namun yang subur hanya tanah yang di atasnya dibangun gedung yang mewakili kebun, ternak, tambak, bahkan juga mewakili dapur. Sementara sawah dan ladang para petani tidak lagi memiliki kesempatan menumbuhkan bibit harapan kesejahteraan, jika hanya untuk sekedar membuat sambal, tomatnya saja kini harus impor!

Sabtu, 31 Desember 2011

Antologi Curahan Hati Untuk Tuhan (buku pertama dan royaltinya untukm amal)

(suber gambar dari google)

(sampul bukunya)

TUHAN,
aku tak pernah meminta hidup, namun Engkau memberikannya. Engkau berikan kesempatan waktu padaku untuk menikmati dunia yang indah ini, kesempatan waktu yang berharga ini. Namun kerap aku melalaikannya, menyia-nyiakan detik nafas yang berhembus. Maka ampunilah aku, tolonglah aku, jangan biarkan indahnya dunia ini menipuku, menyamarkan cahaya cinta dari-Mu di mataku. Jangan biarkan aku larut dalam keindahannya, sehingga aku merasa kurang, tak menerima ketentuan-Mu, iri kepada saudara-saudaraku karena kekuranganku, hingga aku merasa menderita, dan mengurangi rasa syukurku kepada-Mu. Cukupkanlah dengan apa yang Engkau tahu dari kekuranganku.

Pada-Mu Tuhan yang menciptakan dunia ini beserta isinya
Dunia ini hina dalam pandangan-Mu, namun jauh lebih hina diri ini. Dunia ini indah, namun jauh lebih indah waktu-Mu. Waktu dimana Engkau selalu hadir di setiap langkah hidupku. Waktu yang menjadi saksi akan cintaku pada-Mu. Waktu yang selalu mengingatkan akan karunia nikmat-Mu. Waktu yang selalu mendatangkan kecintaan terhadap semua ciptaan-Mu dan ketetapan-Mu. Waktu-Mu tak terbatas. Cinta-Mu tak terbatas waktu. Cinta-Mu selalu bertaburan di bumi dan di langit-Mu. Cinta-Mu adalah ampunan bagiku. Ampunan-Mu begitu besar, namun siksa-Mu juga sangat pedih. Mungkin aku tak layak masuk kedalam surga-Mu, namun aku juga tak sanggup menahan panasnya api neraka-Mu. namun dengan ridha dari-Mu, aku akan selamat baik di dunia dan di akhirat.

Pada-Mu Tuhan Penguasa semesta alam
Aku tak ingin sedih karena dunia, agar aku tak jauh dari-Mu. Aku tak ingin lelah di dunia ini, agar aku tak susah di akhirat. Aku tak ingin menjadi orang yang tamak akan dunia, namun Engkau selalu memberikan rejeki padaku. Meski malaikat-Mu membawa amal burukku pada-Mu. Aku terlalu larut dalam kesibukan dunia, hingga aku lupa urusan akhirat. Ampunilah aku, kasihilah aku seperti para kekasih-Mu. Nabi dan Rasul-Mu. Aku tak sesabar seperti mereka, tak memiliki ilmu seperti mereka, dan takan mampu seperti mereka. Namun aku pun mencintai mereka, karena mereka selalu mendatangkan kecintaan pada-Mu. dengan kisahnya, petuahnya, dan wahyu yang Engkau berikan pada-Nya.

Pada-Mu Tuhan Yang Maha Mulia
Betapa hinanya diri ini tanpa ilmu agama-Mu. Agama yang aku yakini karena kemahaan-Mu. Ilmu agama yang akan menyelamatkanku, memabawaku pada tempat-Mu yang mulia. Rumah bagi orang-orang yang beruntung. Namun dengan kenyataan hidup ini aku pun belajar. Dalam waktu yang membawaku pada langkah-langkah menyusuri detik kemungkinan yang Engkau ciptakan. Rahasia hidup yang menjadi tujuan untuk meraih bahagia yang tersimpan rapat oleh takdir. Namun aku percaya bahwasanya takdir dari-Mu adalah yang terbaik untukku. Meski kadang terasa sedih, luka dan duka, namun di balik semua itu ada cinta yang Engkau tujukan agar aku tahu apa itu ilmu. Maka kuatkan langkahku menyusuri jalan menuju cinta-Mu.

Pada-Mu Sang Guru Sejati
Ajarilah aku bagaimana memberi sebelum meminta, berfikir sebelum bertindak, santun dalam berbicara, tenang ketika gundah, diam ketika emosi melanda, bersabar dalam setiap ujian, dan bersyukur akan nikmat yang Engkau berikan. Jadikan aku orang yang selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebijaksana Umar bin Khattab, sedermawan Utsman bin Affan, sepintar Ali bin Abi Thalib, sesederhana Bilal, setegar Khalid bin Walid, seperti orang-orang yang mencintai-Mu dengan kesungguhannya, segagah para pejuang yang membela kebenaran demi tegaknya agama-Mu. jika tak bisa, jadikanlah aku sebaik-baik dari diriku sendiri seperti yang Engkau cintai. Namun karena cahaya kebaikan-Mu hingga kebaikan itu memberi dan menuju jalan yang terbaik. Baik untukku dan untuk yang lainnya. Karena yang baik menurut-Mu adalah berguna untuk manusia yang lainnya.

Pada-Mu Tuhan tempat bergantungnya hidup manusia
Kugantungkan cita-citaku pada-Mu. Surga-Mu selalu menjadi cita-cita mahluk-Mu, manusia seperti aku. Bukankah tiada dosa memiliki harapan menggapai dunia-Mu ? aku tak ingin beranda-andai, agar aku tak menjadi manusia yang malas. Namun dosakah aku jika membayangkan ? aku ingin bahagia dengan harta yang Engkau titipkan. Keluarga adalah harta yang berharga bagiku, harta yang selalu menunjukan akan arti hidup. Jagalah keluargaku, jadikan sebagai alat untuk menjadi keluarga-Mu, keluarga yang selalu mendapatkan keberkahan, kebahagiaan dan keselamatan. Berkahilah aku dan keluargaku dengan rejeki yang cukup dari-Mu, berikanlah kebahagiaan padaku dan keluargaku dengan kemampuan membahagiaakan orang lain, serta selamatkanlah aku dan keluargaku dari adzab-Mu yang teramat pedih.

Pada-Mu Tuhan Sang Maha Cinta
Tanamkanlah cinta di hatiku, cinta yang memberi dan mendapatkan kecintaan pada-Mu. Cinta dari dan kepada sesama manusia, keluarga, sahabat, kerabat, serta dari manusia yang akan menemani langkah hidupku dan membantu menggapai cinta-Mu. Dunia ini hanyalah hiasan, namun ijinkan aku mendapatkan perhiasan yang berharga. Wanita solehah yang akan membantu merealisasikan keimananku. Aku tak mungkin mendapatkannya, jika aku hanya mencintai bayangan cinta yang aku harapkan, tanpa menjadi pemantul bayangan itu. Orang yang akan mendapatkan perhiasan itu. Karena wanita baik-baik hanya untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki baik-baik hanya untuk wanita baik-baik juga. Wanita tak baik-baik hanya untuk laki-laki tak baik, dan laki-laki tak baik-baik hanya untuk wanita tak baik-baik juga. Maka aku ingin menjadi orang yang baik, agar aku mendapatkan yang baik pula.

Pada-Mu Tuhan Sang Raja di atas segala raja
kerajaan-Mu di bumi dan di langit. Bumi adalah tempat untuk singgah sementaraku sebagai tanah yang Engkau amanahkan. Tempat untuk menanam agar tumbuh segala sesuatu. Berkumpulnya manusia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bagian dari cara menerapkan amanah. Di bumi ini, negri yang aku cintai, aku hidup bermasyarakat. Negri akhirat hanya untuk orang-orang yang tak berambisi dunia. Namun bukanlah ambisi, hanya keinginan, harapan serta wujud dari cintaku pada amanah-Mu. Maka ijinkan aku hidup di negri ini dengan dengan cintaku pada negri. Aku tak inggin menanam serta menanak dusta, jika aku hanya diam melihat ketidak adilan. Meski tak ada keadilan yang mutlak selain dari-Mu. sedangkan telingaku mendengar, mataku melihat, dan hatiku merasa. Aku masih bernafas, masih berfikir dan masih bisa menulis dan membaca. Maka ijinkan aku untuk menulis kebaikan agar aku juga bisa membaca dengan baik dan mungkin bisa berbuat baik juga.

Pada-Mu Tuhanku
Yaa Alloh ya Rabbi
Selain Engkau, tiada yang mampu mengabulkan semua doa-harapanku. Karena dengan doa itu aku merasa kuat saat lemah, merasa mudah saat susah, dan merasa dekat saat jauh. Selebihnya aku hanya mampu berusaha, namun Engkau yang mewujudkan. Maafkan jika aku terlalu banyak meminta, namun hanya pada-Mu lah tempatku meminta.
Aamiin ya Alloh ya Rabbal’alamiin....

Jumat, 30 Desember 2011

Nafas Cinta

(sumber gambar dari google)


Setiap nafas yang bermoral dan berperasaan yang tinggal di bumi Allah SWT. akan memeluk cinta dan kasih sayang selayaknya iman. Doa dan perjuangan yang mereka kobarkan akan menjadi akhir sebuah jawaban. Maka cintailah semua mahkluk berdasarkan pandangan-Nya, agar tidak ada rasa kecewa saat tak mendapatkan apa yang diharapkan. Sebab semua sudah menjadi aturan yang telah dibuat atau ketentuan-Nya. Manusia hanya menjalani, menjaga dan mensyukurinya. Karena itu syukuri apa yang didapat, dan apa yang dimiliki,tidak timbul rasa kurang, tetapi justru akan merasa cukup, bahkan lebih. Dan jangan berhenti berharap, karena sesusah apapun mimpi harus tetap dikejar. Setidaknya berusaha melakukan yang terbaik atas apa yang diyakini, dan biarkan kebenaran datang menghampiri seiring melalui jalannya yang berliku-liku dan menguras tenaga. Karena pada dasarnya, ilmu yang didapat kala mengejar mimpi--itulah yang sebenarnya lebih penting.