Label

Rabu, 05 Juni 2013

Sampah Kemerdekaan (dalam buku antologi Palingan Wajah Garuda)


Aku tidak tahu apa artinya merdeka. Mungkinkah hanya kalimat untuk menyenangkan jiwa saja? Atau hanya sebuah kata yang mudah dibaca dan dituliskan saja? Aku tak paham dengan isi atau makna yang terdapat pada kata merdeka, sepenuhnya. Apakah benar aku sudah merdeka?
Aku masih mencari tahu, mencoba memahami apa itu merdeka. Aku hidup di negeri yang sudah lama merdeka, meskipun masih banyak orang mengatakan bahwa mereka belum merdeka. Mereka masih merasa terjajah! Terjajah hak dan kewajibannya. Hak untuk mendapatkan kemerdekaan dan kewajiban untuk memerdekakan haknya.
Aku coba mendekati samudra yang begitu luas di hati, pintu maaf yang katanya teramat mulia. Aku coba nikmati samudra yang begitu deras ombaknya, airmata dari tangis bahagia keihklasan menerima cobaan. Aku coba mencari pelangi yang katanya indah, penuh warna. Warna biru dari langit yang sebiru samudra, warna putih dari langit yang seputih asa, warna merah membatu yang terlihat kala sore−yang katanya menyakitkan mata jika terlalu lama memandangnya. Adapula warna kuning seperti janur yang menghiasi ruangan, memberi tanda pada tamu undangan saat hajatan. Atau warna kuning pada selembar kertas sebagai bendera duka. Bahkan ada warna hijau yang setegar rumput meski diterpa badai. Ditambah warna-warna lain yang tak terlihat, tertutup karena indahnya. Seperti warna hitam dari awan kala hujan hendak turun.
Apakah benar pelangi itu gambaran hidup?
Entah. Mungkin hanya sebagai hiasan. Lukisan atau tulisan untuk memenuhi lembaran kertas dan hendak dijual. Atau mungkin hanya sebagai dongeng penenang hati. Namun, ternyata begitu mudahnya membuat pelangi. Hanya menunggu datang terik mentari kemudian aku siramkan air dari atas ke bawah. Atau dari samping, kemudian aku melihat sebentuk pelangi itu.
Sangat mudah bukan?
Aku masih berbicara pada angin. Mencoba kabarkan duka padanya. Sebuah cerita dari hati yang terluka karena cinta. Cinta pada negeri yang menyebabkan kedangkalan pemikiran. Negeri ini memang benar kaya. Meski kekayaannya tak pernah aku punya. Tapi kekayaanku adalah kebersamaan, bersaudara. Dan aku ingin mencintai keluarga yang jauh, sanak saudara yang tak aku kenal dan tak pernah aku jumpai. Mereka yang berdarah sama bagai warna merah pada bendera yang berkibar di halaman rumahku, di kampung. Hanya saja warna benderanya mulai pucat. Terlalu lama diguyur hujan airmata dan dijemur dalam panasnya hati oleh ambisi kekuasaan. Ingin aku membeli yang baru.
Aku berharap angin akan kabarkan dukaku ini, agar semua tahu dan merasakannya. Aku masih asyik bercengkrama dengan debu. Berharap ia mampu menceritakan tentang lusuh dan baunya bajuku pada siapa saja. Serta jiwaku yang sama lusuh.
Debu, sampaikanlah pada apa dan siapa saja yang kau dekati. Janganlah kau salah ucap, harus sama dengan apa yang kau dengar dari mulutku, agar tak ada pemikiran yang salah dari mereka.
Aku lupa. Kenapa aku tidak mendengarkan cerita dari suara angin yang datang padaku. Adakah kabar duka atau bahagia dari saudara-saudaraku yang jauh disana. Kenapa aku tak mampu membaca pesan dari debu. Mungkin saja debu itu berasal dari puing-puing reruntuhan bangunan yang terkena bencana. Atau mungkin dari puing-puing reruntuhan bangunan akibat ledakan bom, atau kompor gas yang meledak, atau bahkan mungkin hanya karena terkena peluru meleset.
Banyak dari saudara-saudaraku yang tetidur dalam tikar keikhlasan, berselimut mimpi dan harapan, dingin menemani dan memaksa airmatanya mengalir membasuh telapak tangan sebelum menelan kepahitan hidup. Banyak dari teman-temanku yang tak dirindukan, dipotong masadepannya dan dicincang-cincang dengan hukum di mana tajamnya adalah sebentuk keserakahan atas kekuasaan.
Aku mencari tahu tentang kabar mereka. Kabar dari sahabatku, saudara dan keluargaku yang paling jauh dari belahan dunia. Hanya dekat saat aku melihat dari balik layar kaca, sewaktu aku mengintip di bangunan yang angkuh. Tak lama aku pun diusir mereka yang berseragam dan berbadan tegap seperti anjing si tuan yang doyan makan. Sungguh, ingin aku kesana. Seperti yang nampak jelas pada kertas kabar yang kudapat pagi tadi di bungkusan nasi. Ingin aku merasakan apa yang mereka alami. Tapi yang kualami ini pun rasanya lebih-lebih dari yang saudaraku alami.
Entahlah, sulit melukiskannya pada langit yang tiada mampu aku sampai pula di atasnhya. Hanya doa yang membelah langit. Akan tetapi langit-langit hati saudaraku sudah terlalu penuh dengan lukisan kenyataan yang tak sejalan dengan pesan kemerdekaan, kebahagian, keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan. Seakan kemerdekaan hanya diperuntukkan bagi mereka yang menjadi wakil. Sementara yang diwakilkan cukup mendengar dan merasakan kesengsaraan yang tiada tertahankan.
Aku menangis tanpa henti. Merasa saudara tapi tak bisa berbuat apa-apa. Kata-kata untuk memanjatkan doa ditelan dusta. Aku mengetahuianya, tapi aku hanya diam saja, bukankah itu dusta? Aku merasa saudara tapi aku hanya menangis melihatnya, bukankah itu dusta? Aku memang tak berharta tapi aku memiliki jiwa, tapi aku hanya berdiam diri melihatnya tanpa usaha membantunya, bukankah itu dusta? Aku tak mau terbunuh kemiskinanku, yang selalu melemahkan jiwa dan nuraniku. Aku ingin tegar berdiri; hidupku, jiwaku dan nurani, hingga mati yang mengakhiri!
Aku memang orang tak berpunya, tapi aku merasa merdeka. Aku merasa kaya. Karena aku masih bisa berfikir, bisa berbicara, bisa melangkah dan bisa memberikan apa saja asalkan mau mengusahakannya. Bukan begitu? Seperti yang kau tahu!
Aku datangi pusara Ayah beserta Ibuku, yang lama mati digerogoti penyakit, dan ketiadaan biaya untuk berobat membuat aku merasa tak bisa menjaganya. Terlebih kebodohanku ini yang tak pernah diasah dengan sifat guru yang kian menakutkan. Tak tentu lantaran gajinya habis untuk memberli bensin yang kini harganya tak lagi mau turun. Sementara namanya juga belum terdaftar di buku besar yang menjanjikannya akan mendapatkan tunjangan apabila ia sudah beruban nanti. Tak jarang mengikuti teman-temannya turun ke jalan memaksa angin dan api yang akhirmya merobohkan benteng hatinya yang tak bertanda jasa.
Hayya ‘alal-falaah... Hayya ‘alal-falaah..
Kumandang adzan meliuk-liuk di telingaku. Seketika dadaku bergetar kencang. Ada cinta yang tumbuh dalam hatiku. Kemenangan besar aku rasakan dalam hati. Datang kabar dari saudaraku yang lama tak jumpa, saudara yang sudah kunantikan cukup lama. Ia membawa berita untuk bisa bertemu saudara-saudara yang tak pernah jumpa, lainnya. Akan tetapi semuanya gagal. Hanya karena bus yang hendak aku naiki dibajak sekelompok anak muda. Aku tak begitu ingat wajah-wajah mereka yang memancarkan nyala api. Matanya bagai lampu senter milik pemburu babi di perkebunan kelapa sawit. Hanya saja sasaran mereka salah. Bukan babi yang mereka tumbangkan, hewan buruk rupa, rakus, buas, dan sebagai gambaran nafsu serta ambisi pada kekayaan yang teramat menyesatkan.
Kembali, adzan subuh terdengar, hal yang serupa aku rasa. Kupenuhi pangilan itu. Selepasnya kembali aku bekerja. Kudorong gerobak yang warnanya sama dengan seragam yang kukenakan. Sapu lidi dan pengki tak lupa aku bawa. Sepatu bot yang sobek pun masih kupakai. Biarlah tidak ada ganti, namun tetap menemaniku selama ini. Kesetiannya lebih pasti ketimbang janji-janji yang ada pada kain atau kertas yang melambai-lambai dan merusak pemandangan taman kota. Bahkan tak segan-segan melukai mahluk lain yang banyak memberikan manfaat. Meski hanya menaungi sesiapa yang berjalan atau duduk saat kesombongan matahari memuncak.
Terkadang malkluk yang ditancapi paku-paku itu juga menjadi sarang, pangkalan beberapa orang berseragam dan berpangkat. Dengan sigap menghentikan pengendara yang tidak mengikuti peraturan yang ada. Baik nyata tertulis atau bahkan dibuat-buat demi cacing yang kian kepanasan dan kelaparan dalam perutnya. Tapi entah kenapa mereka tak memberikan surat tilang pada kendaraan yang memiliki kesamaan tententu dengannya. Plat merah yang gagah dan merasa besar bagai gajah−dibiarkannya melangkah, padahal langkahnya adalah zadah.
Ah, aku baru saja menceritakan teman-temanku!
Aku harus tutup mulut, sebab angin yang berhembus dan mendengarkan celotehku ini membisikkan bahwa temanku yang lain sedang melangkah menujuku. Gadis yang biasa menikmati kesejukan dan keramahan taman di antara tinggi dan congkaknya gunung-gunung beton. Lantas ia duduk di bangku yang kemarin aku perbaiki.
“Aku ini anak merdeka, berjalan sendiri tanpa ragu, aku menikmati petualanganku...” ucapnya begitu membuka sebuah buku.
“Tak ada satupun manusia yang bisa berjalan sendiri, meskipun ia memiliki kaki sendiri, sebab langkah manusia bertumpu pada hati, dan hati selalu membutuhkan nasehat, atau bahkan caci maki dari manusia lain yang membuatnya semakin yakin dan kuat untuk menatap langkah selanjutnya.” potongku.
“Aku ini menyedihkan, aku merasa mampu karena Tuhan telah mengirimkan jiwa alam untuk mendampingiku.” ia menutup bukunya.
“Menyedihkan adalah mereka yang tak merdeka. Tak membebani hidupnya untuk kepentingan bersama demi hidup atau yang telah mati dan meninggalkan cinta.”
“Berjalan itu sendiri memberdayakan semesta-lah yang bersama.”
“Jangan berharap merdeka kalau belum mampu mengendalikan diri dan emosi yang menggebu-gebu untuk memerdekakan jiwa lain.”
“Merdeka itu artinya berjalan bergandengan, memungut puing persaudaraan yang tersisihkan kemajuan. Dan kesejahteraan akan terwujud jika kita mau berbagi pada yang membutuhkan. Memerdekakan jiwa tentu aku belum mampu, atau bahkan tak akan mampu.” aku sadar siapa aku, aku hanya seorang tukang sapu.
“Merdeka bagiku adalah bentuk pengendalian diri atau sugesti untuk tidak menciptakan batasan dan menghilangkan batasan.”
“Sesuai aturan, begitukah?”
“Berbicara tentang memerdekakan jiwa seperti berbicara tentang penciptaan alam semestinya. Akhirnya berhenti...”
“Maka berarti kepasarahan diri pada jiwa yang sudah ditetapkan, lillahi ta’ala...”
“Setelah berusaha tentunya.”
“Karena memang hidup itu usaha, berusaha untuk hidup selanjutnya.” kataku pelan.
“Ya, bisa jadi begitu.” memasukkan bukunya ke dalam tasnya, lalu beranjak.
Ah, aku tahu betul siapa dia. Ia gadis yang berbeda, pemikirannya selalu ia tuangkan ke lembar-lembar buku. Lantas ia memintaku untuk membacanya. Ia hanya gadis kuliahan yang menurutku berbeda. Ia sedang berjuang untuk masa depannya. Hidip dan pengabdiannya kelak. Kegalauannya karena negara dan segala rupa yang ada ini membuatnya harus bekerja keras merawat hati dan jiwanya. Berharap tingkah lakunya tiada membuatnya salah langkah.
“Oh iya, terimaksih, Pak! Mungkin besok sore aku akan ke sini lagi.” ucapnya sebelum melangkah meninggalkanku.
Ah, aku juga harus kembali bekerja. Daun-daun yang kering telah berjatuhan dan harus segera kukumpulkan dan kumasukkan ke dalam gerobak. Sebelum hujan mengasingkan aku dengan tanggung jawabku membersihkan sampah.


Puisi Puisi Pilihan (Karya Penulis Besar)

Buya Hamka___Nikmat Hidup

Setelah diri bertambah besar
di tempat kecil tak muat lagi,
Setelah harga bertambah tinggi
orang pun segan datang menawar,

Rumit beredar di tempat kecil
kerap bertemu kawan yang culas,
Laksana ombak di dalam gelas
diri merasai bagai terpencil,

Walaupun musnah harta dan benda
harga diri janganlah jatuh,
Binaan pertama walaupun runtuh
kerja yang baru mulailah pula,

Pahlawan budi tak pernah nganggur
khidmat hidup sambung bersambung,
Kadang turun kadang membumbung
sampai istirahat di liang kubur,

Tahan haus tahanlah lapar
bertemu sulit hendaklah tenang,
Memohon-mohon jadikan pantang
dari mengemis biar terkapar,

Hanya dua tempat bertanya
pertama tuhan kedua hati,
Dari mulai hidup sampai pun mati
timbangan insan tidaklah sama,

Hanya sekali singgah ke alam
sesudah mati tak balik lagi,
Baru rang tahu siapa diri
setelah tidur di kubur kelam,

Wahai diriku teruslah maju
di tengah jalan janganlah berhenti,
Sebelum ajal, janganlah mati
keridhaan Allah, itulah tuju,

Selama nampak tubuh jasmani
gelanggang malaikat bersama setan,
Ada pujian ada celaan
lulus ujian siapa berani,

Jika hartamu sudah tak ada
belumlah engkau bernama rugi,
Jika berani tak ada lagi
separuh kekayaan porak poranda,

Musnah segala apa yang ada
jikalau jatuh martabat diri,
Wajah pun muram hilanglah seri
ratapan batin dosa namanya,

Jikalau dasar budimu culas
tidaklah berubah kerana pangkat,
Bertambah tinggi jenjang di tingkat
perangai asal bertambah jelas,

Tatkala engkau menjadi palu
beranilah memukul habis-habisan,
Tiba giliran jadi landasan
tahanlah pukulan biar bertalu,

Ada nasihat saya terima
menyatakan fikiran baik berhenti,
sebablah banyak orang membenci
supaya engkau aman sentosa,

Menahan fikiran aku tak mungkin
menumpul kalam aku tak kuasa,
Merdeka berfikir gagah perkasa
berani menyebut yang aku yakin,

Celalah saya makilah saya
akan ku sambut bertahan hati,
Ada yang suka ada yang benci
hiasan hidup di alam maya

Emha Ainun Majid_Doa Sehelai Daun Kering

Jangankan suaraku, ya ‘Aziz
Sedangkan firmanMu pun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMu pun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMu pun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMu pun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMu pun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir
Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu ma’shum dan aku bergelimang hawaĆ­
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu
Aku Mabuk Allah
aku mabuk Allah
semata-mata Allah
segala-galanya Allah
tak bisa lain lagi
aku mabuk Allah
lainnya tak berhak dimabuki
lainnya palsu, lainnya tiada
nyamuk tak nyamuk
kalau tak mengabarkan Allah
langit tak langit
kalau tak menandakan Allah
debu tak debu
badai tak badai
kalau tak membuktikan Allah
kembang yang mekar
api tak membakar
kalau tak Allah
mabuklah aku mabuk Allah
tak bisa lihat tak bisa dengar
cuma Allah cuma Allah
kalau matahari memancar
siapa sebenarnya yang menyinar
kalau malam legam
siapa hadir di kegelapan
kalau punggung ditikam
siapa merasa kesakitan
mabuklah aku mabuk Allah
kalau jantung berdegup
siapa yang hidup
kalau menetes puisi
siapa yang abadi
Allah semata
Allah semata
lainnya dusta
(1986)

Minggu, 13 Januari 2013

Rumah Cinta dan Taman Baca


Saat kecil aku tidak tahu kalau besar nanti aku harus jadi apa. Yang kutahu kedua orangtuaku hanyalah petani kecil. Mereka hidup bahagia. Baik sebelum maupun sesudah aku—serta adikku ada. Rumah kecil yang berlantaikan tanah dan berpagarkan gedek adalah surga bagi generasi sebelum mereka. Rumah ini telah diwariskan dari Embahku kepada orangtuaku. Tetapi belum banyak yang diganti. Tiangnya yang keropos, gedeknya yang mulai rontok, daun pintu dan daun jendelanya yang hampir jatuh—masih setia menanti hingga kemampuan menghampiri. Dan kini, yang keempat adalah aku, sebagaimana permintaan ibuku; “Kalau kamu nikah istrimu ajak tinggal di rumah ini, jangan kamu yang ikut istrimu!”.

Sinar mentari pagi yang menembus masuk ke dalam rumah dari lubang anyaman bilah bambunya selalu memberikan semangat untuk mengabdikan diri dengan bekerja di sawah dan di ladang. Sekalipun milik orang lain. Jika malam turun hujan, maka paginya harus merapikan panci dan ember yang dipakai untuk menadah air hujan—agar tidak memperburuk pemandangan rumah. Sedangkan seng—atapnya berkarat akibat dicumbui musim dari waktu ke waktu. Tak jarang hujan yang turun di sore hari juga membuat aku bersih dan riang. Bersama teman-teman bertelanjang dada dan mandi di bawah pancuran air talang rumah-rumah tetangga. Setiap pulang sekolah aku akan mencari rumput. Sampai akhirnya aku temukan mimpiku, menjadi seorang petani seperti kedua orangtuaku.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai bermimpi menjadi seorang tentara agar dapat menjadi orang yang berguna. Apalagi saat itu di kampungku belum ada yang menjadi tentara (sampai sekarang pun masih belum ada). Mungkin aku akan dapat mengangkat derajat keluargaku. Namun, setelah aku lulus SMP ternyata Tuhan hanya memberikan kesempatan untuk belajar tentang pengabdian dalam kehidupan di lingkungan tentara. Aku bekerja sebagai pelayan warung milik pamanku yang lokasinya berada di Markas Komandon Rayon Militer. Selang tujuh bulan aku pulang karena pamanku pindah ke Lampung. Dan di kampung aku mulai mengamalkan ilmu yang kudapat dari ayahku saat beliau masih hidup. Petani mungkin memang takdirku.

Setelah musim panen selesai aku pun kembali merantau dan bekerja pada sebuah pabrik roti. Bangun pukul dua dini hari dan langsung mulai bekerja hingga pukul lima sore. Sebab aku juga ikut majikanku mengantarkan rotinya kepada pedagang yang mengelilingkannya memakai gerobak. Tiba-tiba aku bermimpi ingin mandiri. Aku ingin memiliki gerobak bubur ayam. Maka aku mulai menuliskan peralatan apa saja yang aku butuhkan, juga tak lupa menggambar gerobaknya. Namun belum terwujud—karena baru mulai menabung aku malah keluar dan kembali bekerja sebagai penjual es tebu. Meski masih belum mandiri tetapi kupikir pekerjaan ini lebih baik.

Setelah tujuh bulan bertahan, dengan tabunganku aku mampu membeli sebuah gerobak es cendol berserta perlengkapan dapurnya. Juga sepeda, walau tidak bagus tetapi cukup membantu untuk menekan pengeluaran jika harus naik angkutan saat belanja ke pasar. Dan Tuhan memberikan aku cobaan dengan rejeki yang cukup mudah kudapatkan. Hanya saja aku lupa pada mimpi sebab tanggungjawab atas permintaan ibuku, istana kecil yang perlu diperbaiki agar aku tidak malu saat membawa seorang wanita ke dalam kehidupanku dan kehidupan keluargaku yang sangat tidak sederhana.

Akhirnya musim hujan datang dan aku terjatuh dalam lumpur penyesalan akibat kesalahan yang kubuat. Kabar pun sampai pada salah satu pamanku. Ia datang dan menawari aku untuk ikut berjualan bakso dengannya. Aku pun mulai menatap kembali mimpiku. Namun sayang, Tuhan memberikan aku pelajaran lain. Meski sama-sama berdagang tetapi rejekinya tidak sama. Dan kini aku bekerja sebagai tukang kebun. Memang ini jauh dari keinginanku untuk mandiri. Tetapi aku mencoba menikmati dan menekuni. Aku sadar, banyak mimpi-mimpiku yang belum terwujud. Tetapi apa aku tak boleh bermimpi lain—lagi?

Saat SMP aku suka menulis, dan kini aku ingin menuliskan cerita-cerita yang mungkin bisa dibagi dan diambil pelajarannya. Atau paling tidak bisa kujadikan pengingat agar aku tidak salah langkah kembali. Namun kini ada satu mimpi yang tidak muncul begitu saja. Saat aku pulang kampung, aku melewati balai desa yang dulu ada taman bacanya—yang sering kudatangi untuk membaca atau meminjam bukunya. Tetapi taman baca itu sudah hilang ditelan jaman yang katanya penuh kemajuan dan moderenisasi. Sampai-sampai tak ada lagi anak-anak kampungku yang cinta membaca seperti dulu. Pada malam harinya aku memberanikan diri untuk melihat taman baca yang dulu pernah ada itu. Ternyata buku-bukunya masih ditaruh di gudang—belakang balai desa dengan begitu saja. Sehingga buku-bukunya menjadi busuk. Sepertinya tak ada lagi yang perduli. Mungkin mereka lebih memilih berusaha untuk memajukan taraf kehidupannya demi cinta dan bakti kepada orangtua serta keluarganya—seperti aku.

Dan kini, aku pun beranikan diri untuk bermimpi menghidupkan dunia baca di kampungku. Tidak peduli meski aku dikatakan gila dan serakah dalam bermimpi. Karena setiap orang pasti memiliki satu kecintaan dalam hidup, dan gaya serta pola pikirnyalah yang akan mengantarkan pada kebutuhan. Menabung sudah menjadi kebutuhan, kurasa juga wajib. Aku ingin menabung segala hal yang baik, bukan hanya uang saja. Terlebih untuk menjadi seorang penulis; kebaikan hati, laku, dan pikir adalah sebentuk tabungan untuk buku yang akan dibentangkan pada saat aku benar-benar dicap sebagai penulis oleh Tuhanku.

Rabu, 09 Januari 2013

Kumpulan Puisi SEPERTI PERAHU



Alhamdulillahirobil'aalamiin..
akhirnya terbit juga buku solo pertamaku, walau terbit secara indie


Jenis Kertas HVS
Ukuran 14,5 x 20,5 cm
Tebal: vi + 136 Halaman
Penerbit: Pena Nusantara
ISBN: 978-602-18818-3-7
Harga: Rp. 38.000,-
(belum ongkos kirim)
silahkan hubungi Fanpage: Pena Nusantara
atau lewat pesan akun FB: Pena Nusantara

Sinopsis:

Aku hanya anak manusia, biasa, dan bukan siapa-siapa. Aku hanya tubuh yang terbuat dari tanah dan sedang diperlihatkan dunia beserta cerita dan nilainya. Tidaklah penting nilai tubuh ini, tetapi hanya cerita yang akan tersisa. Tetapi cerita bukan kisah biasa, bagi tubuh ini. Layaknya perahu kecil yang berlayar di lautan mencari ikan. Besar kecil yang didapat tentu bahagia, semestinya! Jauh, dekat, lama, cepat, pendek, atau panjang—waktu bukan jadi soal. Itu hanya perhitungan seluas mata. Tetapi perhitungan yang baik dan utama itu ada setelah tubuh ini kembali ke tanah.

Dan andai aku dapatkan permata dari dasar laut sekali pun—itu tetap tidak luar biasa. Meski sebenarnya perjuangan memang ada. Memilah diantara yang nyata, mencari pada yang kasat mata, mengeluarkan dari yang dipenjara pikir, atau bahkan menelaah dari yang telah ditelan rasa. Perjuangan berat melaluinya adalah cerita utama, bukan hasilnya. Membawa pulang permata dari dasar laut yang terhimpit karang, dihadapkan dengan ombak besar, dihadang badai yang tak pernah usai, permata itu tetap bukanlah milikku! Aku hanya perahu kecil, yang hanya akan disebut perahu jika berada di tengah laut. Kecuali jika telah sampai waktu untuk tinggal di pantai—disandarkan untuk di katakan: inilah perahu!

Dan aku memang belum menjadi perahu, tetapi aku ingin bercerita sedikit tentang dan bagi tubuh ini. Sebagai pesan yang akan kubawa untuk menjadi cermin ketika aku basah setelah terbangun dari tidur. Sebab tidak mudah membuka mata, tidak mudah menatap dunia, tidak salah bercerita, selama tahu batas dunia—apa dan mana yang harus bernilai. Agar aku senantiasa sadar, bahwa tubuh ini tidaklah berarti jika tidak memiliki mata hati.

Senin, 07 Januari 2013

Bukan Resolusi






Sedih itu ketika apa yang kucintai--untuk bahagia namun tertunda atau bahkan terhalangi. Lebih-lebih jika gagal!

Dan aku tidak terlalu sedih karena di awal bulan Januari ini yang juga awal tahun baru 2013 masehi--namun tidak dapat menabung seperti di awal-awal bulan biasanya sejak lima tahun yang lalu . Bukan karena tidak bisa, sebetulnya. Juga bukan karena tertunda. Lebih tepatnya menabung di tempat lain serta cara lain sebagai upaya menabung sebuah kepercayaan terhadap janji atas peduli. Meski tak dipungkiri hati ini cukup lelap ketika mata memadangi nominal yang tertera di buku tabungan yang sudah ganti—sementara tangan terus membuka setiap lembarnya hingga akhirnya berhenti pada keterangan sisa saldo akhir: seratus ribu rupiah.
Masih kuingat kebahagian yang kurasa pada saat pertama kali memiliki buku tabungan ini. Ada kebanggan dan juga keyakinan yang mulai tumbuh dengan sangat subur di hatiku, meski membuka rekeningnya hanya dengan uang tiga ratus ribu rupiah. Berjalan dengan tingkah aneh mirip anak laki-laki miskin dan jelek yang baru saja melamar gadis pujaannya namun diterima dengan tulus apa adanya. Tidak peduli pada sekeliling seakan hanya sendiri berjalan di atas pelangi kala menuju nirwana yang dimimpikan. Dan tersadar setelah jatuh ke bidang sawah yang baru selesai dicangkul pasca musim panen padi—karena terkaget saat Pak Tua menyapa.
Tanpa harus kupamerkan senyumku—pun tahu bahwa senyumanku tak jauh berbeda dengan senyumannya sebagai seorang petani yang sukses panen padi. Sebab hujan mampu membuat tanah—sawahnya menjadi tempat tinggal yang pantas bagi milyaran gabah yang telah disemaikankannya dengan segala usaha; dari tenaga sampai modal yang diadakannya. Namun, hujan sore ini seperti membuyarkan pandanganku pada lukisan cinta dan impian yang selama ini kubangun dan kupercaya dengan segala usaha. Baik dari tenaga juga modal yang selalu kuadakan; menyisakan uang dari gaji bulanan meski hanya lima puluh ribu rupiah.
Tetapi pikiranku masih tajam dengan ingatan ini. Uang yang kutabung selama lima tahun ada pada beberapa orang hingga semuanya berjumlah tiga belas juta rupiah. Hanya saja tidak tahu kapan pasti uang itu akan tertera dalam buku tabunganku atau mungkin ada di kedua telapak tanganku agar merasakan bagaimana rasanya membawa uang sebanyak itu. Padahal, dulu saat pertama kali membuka rekening, selalu kukatan dalam hati dan sering kuulangi sehingga menjadi benteng pertahanan: uang yang sudah masuk ke tabungan tidak boleh dipinjamkan!
Namun, dengan begitu saja benteng pertahananku runtuh saat mendengar ada yang butuh dan pantas dipinjami karena untuk hal baik, bahkan mulia. Dengan cepat kuambil sejumlah yang dibutuhkannya. Karena susahnya jika saat butuh dan mendadak seperti ini—mengambil, mungkin dengan ATM lebih memudahkannya karena tidak perlu mengantri panjang dengan alat utama sebuah potongan kertas bernomor. Apalagi jika butuh mendadak—mengambil pada waktu malam, tidak khawatir karena Bank sudah tutup sementara mesin ATM masih ada dan terbuka. Hanya butuh kewaspadaan. Proses transaksi tranfers pun lebih mudah dan cepat walau berbeda Bank.
Jika memang ini penyebab utamanya—karena kemudahan yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan, kurasa terlalu bodoh jika dijadikan alasan. Sebab itu semua adalah suatu hal yang memang pantas dan harus dimiliki selayaknya menyimpan uang dalam saku. Dan dengan mudah kupindahkan uangku ke rekening mereka yang membuat hatiku sakit saat tahu alasan—yang menjadikan beban dalam pikiran bahwa ini kulakukan demi ikatan. Juga lingkaran yang memutar tanpa putus, kecuali keyakinanku yang tumbuh subur karena kepercaayan pada hal itu—mereka abaikan.
Sebagai tukang kebun, terkadang memang ada sedikit senyum kering jika datang hal itu dari mereka yang sebenarnya lebih pantasnya aku yang butuh--diberi hal itu olehnya karena status hidup dan juga pekerjaannya. Namun, status dunia memang terkadang hanya sebuah figura yang dapat membuat sebuah gambar bisa terlihat lebih bagus. Dan jika figura itu dilepas, maka datang senyum kering kerontang karena terlalu lama mulut membuka dan gelengan kepala membuat pusing memikirkannya.
Pernah gitarku dibawa—dipinjam teman, namun ternyata dijual. Dan nama baik keluarganya pun menjadi figura yang dapat membungkam mulutku. Kini, telepon dan SMS mulai datang tanpa peduli waktu ke HP-ku yang kini tak dapat kupakai karena rusak dan aku mulai bosan jika akan banyak datang lagi. Mendekat hanya saat butuh. Juga banyak lagi yang tak bisa kuuraikan atas nama kebaikan yang harus kujaga.Ya, setidaknya itu suatu bukti bahwa aku masih diingat.Tetapi aku sadar, bungkamku ini adalah dosa. Tidak mengingatkannya karena malu jika datang suatu hal layaknya ulat yang merusak bunga yang kurawat. Sebab ulat itu akan jadi kupu-kupu andai malu itu datangnya dari mereka, sebab malu merupakan sebagian dari iman.
Sebenarnya, aku pun butuh HP untuk hubungan lain yang terkadang menjadi penting. Namun, ini lebih penting sebab malunya dia memang pantas jadi alasan yang membuat kelapang hati ini untuk mengalah. Apalagi dia adikku, bagaimana mungkin aku akan mengabaikannya? Kecuali aku kejam. Dia sudah memilihku sebagai sambungan harapannya ketimbang meminjam pada saudara lainnya yang sebenarnya jauh lebih tepat dan pantas. Gambar hidupnya ada dalam figura indah dan mewah.
Dan ini mungkin akan terasa atau terlihat kejam, sebab usiaku tak lagi memungkinkan untuk menunggu lebih lama datangnya sebuah kebahagian atas impian dan cinta. Sebab impian dan cintaku ini seharga puluhan juta. Aku harus melunasinya.
Mungkin, inilah saatnya untuk aku memikirkan diriku. Tetapi, aku tidak dapat lagi mebuat benteng pertahanan, kecuali aku benar-benar menjadi orang yang kejam. Sebab kuyakin ini semua hanya titipan, setidaknya menjadi bahagia atau tidak adalah bagaimana saat titipan itu datang dan cara apa untuk mengembaikannya. Lukisan ibuku masih aman dalam figura dunia yang berbeda, kesabarannya menunggu dan keikhlasannya menjadi guru terbaik dalam setiap hal. Seperti yang selalu ibu ucapkan; semoga jadi berkah.
Bulan ini menuju usiaku yang ke 24 tahun—kurang dua bulan lagi. Dan aku ingin sekali pada tahun 2014 nanti, sesuatu yang terserak pada mereka itu dapat kembali. Pada usiaku yang ganjil itu ingin sudah kumiliki rumah cinta, dan tahun selanjutnya impianku yaitu taman baca. Maka mulai awal bulan depan aku harus kembali menabung walau apapun alsannya. Sekecil apapun, pasti tetap ada manfaatnya. Juga menabung hal lain, yaitu tulisan yang juga menjadi sebagian dari impian. Memanfaatkan waktu luang walau lelah kerja sepanjang hari, siang dan malam mengkatkan leher pada majikan sebabagai satus kerja seorang tukang kebun dan juga penjaga rumah. Serta kacung!
Ah, bahkan tulisan ini pun bisa saja menjadi tabungan untuk catatan seorang tukan kebun yang harus kuingat, sebab ‘aku tidak gila’.
Jika memang hal ini adalah suatu ujian atas kepantasan hidup sebagi bukti karena-Nya, maka hanya bisa kukatakan bahwa ujian ini sama halnya dengan hujan. Jika jatuh pada tempat yang baik, maka akan datang hal baik selayaknya berkah bagi semua. Datang untuk yang hidup di tanah, sungai, hutan, laut, juga gunung. Atau datang dari mereka yang hidup di tanah, sungai, laut, hutan, juga gunung. Bahkan jika hujan turun berlebihan dan menimbulkan banjir, setidaknya akan mendatangkan kepedulian. Bagi yang tahu.

Jumat, 28 Desember 2012

Kesabaran adalah ilmu yang tidak ada habisnya





“Selama anaknya masih hidup, meski wajah telah berkerut, meski rambut telah beruban, dan masih ada pula sisa tenaganya, seorang ibu masih rela dan sanggup jadi hamba. Lalu kapan si anak hendak balas jasa?!”

Adalah seorang ibu dari dua anak laki-laki yang sedang merantau di Jakarta. Juga berstatus janda yang ditinggal mati oleh suaminya karena sakit. Meskipun usianya baru kepala empat, tetapi tidak juga Si Ibu ini punya niat untuk menikah lagi. Malah ia memilih mengabdikan diri menjadi istri yang setia. Tak pernah bosan menziarahi makam suaminya untuk berdoa dan membersihkannya. Mengajarkan ilmu cinta kepada anak-anaknya. Ada keinginan untuk melihat hidup anaknya dewasa kelak: bahagia dan bersahaja. Ada juga harapan untuk dapat menumpang hidup kepada anak pertamanya di usia senjanya nanti.

Tetapi, Si Ibu ini tahu betul cita-cita anaknya—yang tak jauh berbeda dengannya. Dimana rumah cinta yang menjadi peninggalan kakek dan neneknya sudah mulai rapuh dan tak bisa diandalkan lagi dalam segala cuaca. Lebih tua dari usia anak pertamanya. Ada juga untuk menyambung harapan ia meminta kepada anak pertamanya agar membawa istrinya ke rumah cinta yang jauh dari kata sederhana itu jika menikah nanti. Karenanya, apabila mendapatkan uang kiriman dari anak-anaknya, ia pun selalu menyisakan untuk sekedar membeli bahan-bahan bangunan, semampunya. Seperti yang sudah dilakukannya. Menganti pintu rumahnya, Mengganti beberapa lembar seng yang bocor, dan mengganti tiangnya yang keropos. Bahkan pagar gedeknya pun ditambal dengan tripleks tipis, walau hanya pada ruang kamar tidur saja.

Semua itu dilakukannya sebagai pengingat bagi anaknya bahwa rumah cinta adalah cita-cita pertamanya yang harus segera diwujudkan, sedangkan menulis dan taman baca adalah impiannya yang memang juga harus diperjuangkan walau berat dan susah. Karena itu ia tidak marah ataupun sedih ketika mengetahui bahwa anaknya membeli laptop dengan cara kredit untuk menggapai impianya itu. Malah ia rela korbankan perasaan saat ada saudara-saudaranya yang memiliki pemikiran lain—kalau itu hanya untuk gaya-gayaan saja.

Pernah, salah satu teman anaknya mengatakan; “anaknya mainan laptop ibunya menggendong karung!” pada Si Ibu ketika melihatnya pulang dari kebun teh sebagai kuli pemetik daun teh. Tetapi dengan tenang Si Ibu menjawab; 'biar berkah'.

Bicara soal berkah, entah kapan Si Ibu ini merasakannnya. Tetapi banyak yang ia contohkan kepada anaknya. Pernah anaknya marah karena ada tetangga yang menaruh barang di rumahnya. Kemudian kursi yang menjadi pengisi salah satu ruangan dalam rumah dipinjamnya pula. Tetapi Si Ibu itu tetap sabar dan menenangkan anaknya yang marah karena tersinggung; rumah ibunya bukan gudang. Akan tetapi, kini Si Ibu ini memilih tinggal (tidur, masak, mandi dll) di rumah bibinya yang juga sudah dianggap sebagai ibu kandungnya. Semua itu bukan karena menghindar dari saudara perempuannya (kakak) yang sedikit tidak waras dan suka mengamuk. Tetapi karena pengabdian kepada seorang bibi yang sudah dianggapnya sebagai ibu, itu.

Dengan sabar Si Ibu ini mengurus adik sepupunya (perempuan) yang sakit lumpuh. Memandikannya, memakaikan baju, menyuapi saat makan, mendudukkan di kursi, menidurkan di ranjang, juga mengurusnya saat dan setelah buang air—baik kcil maupun besar. Memang terkadang masih dibantu oleh orangtuanya—Si Bibi, tetapi ia tetap harus bersabar karena adik sepupunya yang lumpuh—kini juga mulai tuli. Bicaranya pun tak jelas dan sangat pelan. Mengurus orang seperti ini sangat butuh kesabaran dan kelemah lembutan, sebab perasaannya sangat mudah tergores jika ada gerakan sedikit keras saat mengurusnya. Apalagi juga tidak bisa ditinggal lama-lama, sehingga untuk sholat pun tak bisa pergi ke masjid untuk berjamaah. Tetapi Si Ibu ini tetap tekun.

Memang Tuhan itu Maha Tahu, tetapi Si Ibu ini juga harus tahu kalau anak pertamanya berhasil mewujudkan cita-citanya untuk rumah cinta, juga membawa istrinya sesuai yang diinginkannya, entah bagaimana nanti akhirnya. Apakah harus tetap tinggal di rumah bibinya untuk merawat adik sepupunya atau memilih tinggal bersama anak dan menantunya. Dan hanya Tuhan yang tahu apa yang selalu terucap dari bibirnya yang tak pernah bergincu.

Kini umur bibinya sudah tua, hampir 70 tahun, sedangkan adik sepupunya mungkin seumuran dengannya. Pun memiliki satu anak laki-laki yang baru mulai bekerja—merantau di Jakarta setelah lulus SMA. Dan entah bagaimana nanti jika salah satu putus usianya. Kecuali adik sepupunya lebih dulu, tetapi mana bisa umur dipinta? Jika yang lain, atau dirinya? Hanya Tuhan Yang Tahu, usia sudah jadi rahasia-Nya. Dan senjata utama untuk menjaga segala hal yang tak pasti jelas hanya kesabaran.

Kembali lagi ke kakak perempuannya yang sebenarnya tidak gila, hanya saja suka mengamuk itu. Jika pulang anak-anaknya nanti, maka Si Ibu ini harus menebalkan kesabarannya. Sebab, jika sampai cita-cita dan keinginannya dari anak pertamanya, maka ia harus berbagi ruangan dalam satu atap. Apa mungkin, menantunya akan menerima kedaan keluarganya? Bagaimana nasib anaknya? Lagi-lagi hanya Tuhan Yang Berkuasa. Dan menjalankan sebuah usaha serta berdoa sudah pasti dilakukannya, agar anak-anaknya mau menerima kenyataan bahwa hidup di dunia itu memang asing. Dunia adalah penjara bagi yang menghamba pada-Nya.

Hidup dalam ketidak sederhanaan memang terkadang menumbuhkan rasa malu jika tidak dapat menjaga diri dari hak kepemilikan. Tetapi Si Ibu ini amat sadar, bahwa malu adalah sebagian dari iman. Dan sutau kali pernah dibuat malu saat namanya disebutkan dalam suatu perbandingan besar kecilnya suatu nominal saat menyumbang untuk pembangunan masjid. Si Ibu ini dijadikan tolak ukur bagi mereka yang masih enggan beramal. Lebih besar sumbangannya daripada mereka yang kehidupannya terbilang lebih dari kata sederhana. Akan tetapi Si Ibu ini tetap ikhlas, tidak mennginkan sanjungan dari mereka yang mendengar semua itu. Dan tidak memikirkan berapa besar pahala yang akan didapatkannya.

Pahala memang tak terlihat, tapi—mungkin—bisa dirasa dengan adanya ketenangan. Sehingga Si Ibu ini pun tetap tenang saat menjalankan kehidupannya, saat meminjamkan juga memberikan sebagian yang dimilikinya, bahkan saat menerima ketentuannya yang terkadang tak sesuai harapan dan apa yang ia percayakan atas hal tersebut. Tetapi Si Ibu ini tetap percaya, bahwa Tuhan Maha Besar dan Maha Mengetahui apa-apa yang ada di balik semua rasa kekecewaannya: Kesabaran adalah ilmu yang tidak ada habisnya...

Jumat, 23 November 2012

Buku-buku Antologiku























Buku Antologiku :

1. Curahan Hati Untuk Tuhan. ( untuk amal dan tidak memiliki bukunya) LeutikaPrio (indie)
2. Funny Pocong and Casper Around us. (tidak memiliki bukunya) AGpublishing (indie)
3. Puisi Adalah Hidupku. (tidak memiliki bukunya) LeutikaPrio (indie)
4. Surat Dear Mama #4. (untuk amal dan tidak memiliki bukunya) NulisBuku.com (indie)
5. surat 99 Pesan Kerinduan untuk President. (tidak memilki bukunya) LeutikaPrio (indie)
6. Kisah Inspiratif Seorang Nenek Di Bawah Pohon Kasturi. (untuk amal dan memiliki bukunya sebagai hadiah Lomba Menulis Puisi untuk Indonesia, juara harapan 3) OaseQalbu (indie)
7. 101 Puisi Cinta Untuk TKI. (tidak memiliki bukunya) Umahaju Publisher (indie)
8. FTS Memori In Love (tidak memiliki bukunya) SkylArt Publishing (indie)
9. Cerpen dan Puisi Alam Imajer (tidak memiliki bukunya) Puput Happy Publisher (indie)
10. Puisi Presiden untuk Presidenku. (tidak memiliki bukunya) SANY publisher( indie)
11. FTS Event Tahun Baru. (tidak memiliki bukunya) Anissa Ae publisher (indie)
12. FTS Perindu Surga (memiliki bukunya sebagai hadiah juara 1 puisi di bulan Mei di Grup AAR) Puput Happy Publisher (indie)
13. Puisi Indonesia Dalam Naungan Doa Kami (tidak memiliki bukunya) Penerbit Oase Qalbu (indie)
14. Puisi Berbagi Kasih (tidak memiliki bukunya) Penerbit Sahabat Kita (indie)
15. Puisi Selayang Pesan Penghambaan (tidak memiliki bukunya) Penerbit Oase Qalbu (indie)
16. FTS Ramadhan di Rantau (tidak memiliki bukunya) Penerbit Harfey (indie)
17. FTS, Surat & Puisi Penantang Mimpi (Tuhan, aku dan sastra) (tidak memiliki bukunya) Hasfa Publishing (indie)
18. Cerpen Palingan Wajah Garuda (memiliki bukunya) penerbit Antarnusa
19. Kisah Inspiratif Menatap Luas Kehidupan (untuk amal dan tidak memiliki bukunya) Rasibook (indie)
20. FF komedi Aksi Hantu (tidak memiliki bukunya) Deka Publisher (indie)
21. Cerpen Say No To Tatto (memiliki bukunya) Deka Publisher (indie)
22. Kisah Lebaran Menerjang Rindu Antara Seol-Kerinci (tidak memiliki bukunya) Penerbit Oase Qalbu (indie)
23. Puisi Dalam Nafas Kata (tidak memiliki bukunya) Goresan Pena Publishing (indie)
24. Cerita Serba Serbi Mudik #2 (tidak memiliki bukunya dan royalti untuk amal) Deka Publisher
25. Berbagi Abi (tidak memiliki bukunya dan royalti untuk amal) Deka Publisher
26. Tentang Pahlawan (tidak memiliki bukunya) Pena Nusantara (lini indie)


Keterangan : maksud daripada indie adalah tidak masuk ke toko buku (skala nasional), pemasaran hanya lewat internet (online). Biayanya pun ditanggung pihak penyelenggara lomba. Jarang ada royaltinya, kecuali ikut investasi. Penulis hanya mendapatkan potongan harga jika membeli bukunya, sebesar 15 / 20 %.

ini link info (catatan) pada facebookku:
https://www.facebook.com/note.php?saved&¬e_id=394256803935708